-

Thanks and Welcome to Zayin's blog



“ Ibu belikan aku es cream .. belikan .. belikan .. “, rengekan-rengekan seperti  itulah yang seringkali kita dengar sewaktu penjual  es cream melawati sekumpulan anak-anak kecil, sepertihalnya yang terjadi saat ini, anak tetanggaku  merengek-rengek meminta dibelikan es cream oleh ibunya, pedagang itu agaknya telah mengenal dan sangat paham di tempat manasajakah ia harus berhenti untuk memikat hati anak-anak kecil  agar membeli es cream dagangannya.

                Dari balik kaca rumahku aku tersenyum simpul melihat tingkah anak tetanggaku itu, tanpa kusadari dibelakangku telah berdiri ayahku yang sepertinya juga penasaran dengan apa yang sedang kulihat. Selang beberapa lama ahirnya pertunjukan yang menarik itupun berlalu. Ayahku yang tadinya diam seribu bahasa tiba-tiba berkata,“ Zayin, ayah punya cerita tentang hal semacam yang kamu lihat barusan“. ”Cerita apa ayah, maksud ayah anak yang merengek minta dibelikan es cream? “. “ Betul“ jawab ayahku singkat.

                Ayahpun memulai ceritanya, ketika ayah masih tinggal bersama ibuk (nenek) kamu dulu, ayah memiliki seorang tetengga namanya pak Rahman, kalau kamu  tahu, pak Rahman ini berawakan kurus tinggi, beliau bekerja menjual korden keliling, semangatnya untuk bekerja itu sungguh luar biasa nak. Dulu ayah sering pergi kerumahnya sekedar untuk bercengkrama dan silaturrahmi. Pak  Rahman sering kali bercerita pada ayah tentang kisah hidupnya.

 Suatu ketika pak Rahman sedang menjual korden dagangannya ke desa lain, beliau melihat seorang anak yang merengek-rengek meminta dibelikan es cream pada ibunya, tapi ibunya tak membelikannya karena pada saat itu ibunya tidak mungkin mampu membelikan es cream untuk buah hatinya, walau hanya sebatas Rp 1000,00 saja, karna memang kondisi ekonomi orang tua anak itu begitu memprihatinkan. Jangankan uang untuk jajan buah hatinya, untuk makan saja mereka  tak cukup. Dasar anak kecil, ia tak pernah memahami kebingugan ibunya itu, ia hanya terus saja merengek-rengek meminta dibelikan es cream.

                Melihat hal itu pak Rahman merasa iba dan kasihan. ibu anak kecil  itu kebingungan mencoba mencari-cari alasan agar si buah hatinya tak jadi meminta dibelikan es cream. Ahirnya pak Rahman dengan cekatan merogoh saku celananya mengambil sedikit dari uang dagangan kordennya untuk diberikan pada anak kecil itu. walaupun korden dagangannya  pada saat itu belum ada yang laku. Subhanallah ,,, ibu anak kecil itu langsung memegang tangan pak Rahman  mengucapkan banyak terima kasih sambil meneteskan air mata syukur, merasa dirinya tertolong dari kebingungan yang ia alami.

                Tahun demi tahunpun berlalu, pak Rahman masih setia dengan pekerjaannya, pekerjaan yang menjadi tumpuan hidupnya, menjual korden keliling. Suatu ketika istrinya terserang demam berdarah yang teramat parah, sampai harus dirawat inap dirumah sakit. Pak Rahman ketika itu merasa  sangat kebingungan, uang hasil penjualan korden tak lagi cukup untuk membiayai pengobatan istrinya, ahirnya pak Rahman  mencoba meminjam uang kesana kemari demi  untuk membiayai  pengobatan istri  yang begitu beliau cintai itu.

Dalam kondisi yang seperti itu pak Rahman masih tetap semangat, berusaha untuk menjajakan korden dagangannya. Sampai suatu ketika pak Rahman melewati suatu desa, tiba-tiba ada orang yang memanggil beliau, ”Pak korden pak” “Oohh .. iya Buk “ jawab pak rahman polos. “ Saya pilih yang ini saja Pak kordennya. Tolong sekalian bapak pasangkan korden diseluruh jendela rumah ini ya pak “, “ Emm .. iya Buk, ngomong-ngomong kok banyak buk? “. “ Iya pak “jawabya singkat. Jika dihitung-hitung korden yang dibeli  itu setara dengan lima hari penjualan korden pak Rahman.

Setelah beberapa lama ahirnya selesailah pekerjaan pak rahman memasang korden. Setelah itu pak rahman dijamu  makan oleh pemilik rumah besar itu sambil mengajak pak Rahman bercengkrama santai, sampai ahirnya pembicaraan menjurus pada keadaan yang pak Rahman alami sekarang ini. Pak Rahman  bercerita  bahwa  beliau baru saja ditimpa musibah,  istrinya sedang dirawat di rumah sakit akibat penyakit demam berdarah . 

Tiba-tiba ibu pembeli korden ini menangis sambil menatap mata pak Rahman dalam-dalam, Pak Rahman merasa heran dengan tingkah aneh ibu pemilik rumah besar itu. “Bapak, apakah bapak lupa denga saya “, kata perempuan itu dengan air mata yang semakin deras membasahi pipinya. Pak Rahman  semakin bertambah bingung. Dalam hati pak rahman berkata “ Siapa sebenarnya  perempuan ini? “.  

“ Apakah bapak benar-benar lupa dengan saya, kalau begitu ingatkah bapak dengan anak yang merengek-rengek meminta dibelikan es cream 10 tahun silam “. “ Ooh iya saya ingat anak itu, memangnya ada apa dengan anak itu” , tanya pak Rahman. “ Saya ibunya,  sudah lama saya mencari bapak, saya ingin berterima kasih pada bapak karena telah menolang saya dari kesusahan saya dulu”.” Saya menolong apa buk? ”, tanya pak Rahman lagi. “ bapak telah memberi anak saya uang untuk membeli es cream, yang ketika itu saya benar-benar tak memiliki uang sepeserpun “, “ Tapi saya dulu cuman memberi anak ibu Rp 1000,00 saja “.  “ Bapak,  jumblah rupiah itu tak penting, tapi keikhlasan bapak membantu kebingungan saya dulu itu yang ingin saya balas, dan sekaranglah waktunya saya bisa membalas kebaikan bapak, saya akan membayar semua biaya istri bapak selama berada di rumah sakit”.

Seketika pak Rahman bersujud  syukur, doa yang beliau panjatkan setiap malam dalam qiyamullail  beliau ahirnya dikabulkan oleh Allah SWT. Pak Rahman meneteskan air mata sambil berterima kasih pada ibu pembeli korden beliau. Subhanallah ... memang kebaikan yang kita lakukan dengan hati yang ikhlas tidaklah akan sia-sia. Wallahua’lam bissowab


               
               



date Minggu, 13 April 2014

0 komentar to “Kebaikan Takkan Pernah Sia-sia”