“ Ibu belikan aku es cream .. belikan .. belikan .. “, rengekan-rengekan seperti itulah yang seringkali kita dengar sewaktu penjual es cream melawati sekumpulan anak-anak kecil,
sepertihalnya yang terjadi saat ini, anak tetanggaku merengek-rengek meminta dibelikan es cream oleh ibunya, pedagang itu agaknya telah mengenal dan sangat paham di tempat manasajakah ia harus berhenti untuk memikat hati anak-anak kecil
agar membeli es cream
dagangannya.
Dari
balik kaca rumahku aku tersenyum simpul melihat tingkah anak tetanggaku itu, tanpa kusadari dibelakangku telah berdiri ayahku yang sepertinya juga penasaran dengan apa yang sedang kulihat. Selang beberapa lama ahirnya pertunjukan yang menarik itupun berlalu.
Ayahku yang tadinya diam seribu bahasa tiba-tiba berkata,“ Zayin, ayah punya cerita tentang hal semacam yang kamu lihat barusan“.
”Cerita apa ayah, maksud ayah anak
yang merengek minta dibelikan es cream? “. “ Betul“ jawab ayahku singkat.
Ayahpun memulai ceritanya, ketika ayah masih tinggal bersama ibuk (nenek) kamu dulu,
ayah memiliki seorang tetengga namanya pak Rahman, kalau kamu tahu, pak Rahman ini berawakan kurus tinggi, beliau bekerja menjual korden keliling, semangatnya untuk bekerja itu sungguh luar biasa nak. Dulu ayah
sering pergi kerumahnya sekedar untuk bercengkrama dan silaturrahmi.
Pak Rahman sering kali bercerita pada ayah
tentang kisah hidupnya.
Suatu ketika pak Rahman sedang menjual
korden dagangannya ke desa lain, beliau melihat seorang anak yang merengek-rengek
meminta dibelikan es cream pada ibunya, tapi ibunya tak membelikannya karena
pada saat itu ibunya tidak mungkin mampu membelikan es cream untuk buah
hatinya, walau hanya sebatas Rp 1000,00 saja, karna memang kondisi ekonomi orang tua anak itu begitu
memprihatinkan. Jangankan uang untuk jajan buah hatinya, untuk makan saja
mereka tak cukup. Dasar anak kecil, ia tak
pernah memahami kebingugan ibunya itu, ia hanya terus saja merengek-rengek
meminta dibelikan es cream.
Melihat hal itu pak Rahman
merasa iba dan kasihan. ibu
anak kecil itu kebingungan mencoba mencari-cari
alasan agar si buah hatinya tak jadi meminta dibelikan es cream. Ahirnya pak
Rahman dengan cekatan merogoh saku celananya mengambil sedikit dari uang
dagangan kordennya untuk diberikan pada anak kecil itu. walaupun korden
dagangannya pada saat itu belum ada yang
laku. Subhanallah ,,, ibu anak kecil itu langsung memegang tangan pak
Rahman mengucapkan banyak terima kasih sambil
meneteskan air mata syukur, merasa dirinya tertolong dari kebingungan yang ia alami.
Tahun demi tahunpun berlalu, pak
Rahman masih setia dengan pekerjaannya, pekerjaan yang menjadi tumpuan hidupnya,
menjual korden keliling. Suatu ketika istrinya terserang demam berdarah yang
teramat parah, sampai harus
dirawat inap dirumah sakit.
Pak Rahman ketika itu merasa sangat
kebingungan, uang hasil penjualan korden tak lagi cukup untuk membiayai
pengobatan istrinya, ahirnya pak Rahman
mencoba meminjam uang kesana kemari demi untuk membiayai pengobatan istri yang begitu beliau cintai itu.
Dalam kondisi yang seperti itu pak
Rahman masih tetap semangat, berusaha untuk menjajakan korden dagangannya. Sampai suatu ketika pak Rahman melewati
suatu desa, tiba-tiba ada orang yang memanggil beliau, ”Pak korden pak” “Oohh .. iya Buk “ jawab
pak rahman polos. “ Saya pilih yang ini saja Pak kordennya. Tolong sekalian bapak pasangkan korden diseluruh jendela rumah ini
ya pak “, “ Emm .. iya Buk, ngomong-ngomong kok banyak buk? “. “ Iya pak “jawabya singkat. Jika
dihitung-hitung korden yang dibeli itu
setara dengan lima hari penjualan korden pak Rahman.
Setelah beberapa lama ahirnya selesailah pekerjaan pak rahman memasang
korden. Setelah itu pak rahman dijamu
makan oleh pemilik rumah besar itu sambil mengajak pak Rahman bercengkrama santai, sampai ahirnya pembicaraan
menjurus pada keadaan yang pak Rahman alami sekarang ini. Pak Rahman bercerita bahwa beliau
baru saja ditimpa musibah, istrinya
sedang dirawat di rumah sakit akibat penyakit demam berdarah .
Tiba-tiba ibu pembeli korden ini menangis sambil menatap mata pak Rahman
dalam-dalam, Pak Rahman merasa heran dengan tingkah aneh ibu pemilik rumah
besar itu. “Bapak, apakah bapak lupa denga saya “, kata perempuan itu dengan
air mata yang semakin deras membasahi pipinya. Pak Rahman semakin bertambah bingung. Dalam hati pak
rahman berkata “ Siapa sebenarnya perempuan
ini? “.
“ Apakah bapak benar-benar lupa dengan saya, kalau begitu ingatkah bapak
dengan anak yang merengek-rengek meminta dibelikan es cream 10 tahun silam “. “ Ooh iya saya ingat anak
itu, memangnya ada apa dengan anak itu” , tanya pak Rahman. “ Saya ibunya, sudah lama saya mencari bapak, saya ingin
berterima kasih pada bapak karena telah menolang saya dari kesusahan saya
dulu”.” Saya menolong apa buk? ”, tanya pak Rahman lagi. “ bapak telah memberi anak saya uang untuk
membeli es cream, yang ketika itu saya benar-benar tak memiliki uang sepeserpun
“, “ Tapi saya dulu cuman memberi anak ibu Rp 1000,00 saja “. “ Bapak, jumblah rupiah itu tak penting, tapi
keikhlasan bapak membantu kebingungan saya dulu itu yang ingin saya balas, dan
sekaranglah waktunya saya bisa membalas kebaikan bapak, saya akan membayar
semua biaya istri bapak selama berada di rumah sakit”.
Seketika pak Rahman bersujud syukur,
doa yang beliau panjatkan setiap malam dalam qiyamullail beliau ahirnya dikabulkan oleh Allah SWT. Pak Rahman meneteskan air mata sambil berterima kasih pada ibu pembeli
korden beliau. Subhanallah ... memang kebaikan yang kita lakukan dengan hati
yang ikhlas tidaklah akan sia-sia. Wallahua’lam bissowab
Minggu, 13 April 2014